The Architecture of Love – Ika Natassa (@Ikanatassa)

292 pages

Published: June 2016

Publisher: Gramedia Pustaka Utama

Genre: Romance Fiction

New York mungkin berada di urutan teratas daftar kota yang paling banyak dijadikan setting cerita atau film. Di beberapa film Hollywood, mulai dari Nora Ephron’s You’ve Got Mail hingga Martin Scorsese’s Taxi Driver, New York bahkan bukan sekadar setting namun tampil sebagai “karakter” yang menghidupkan cerita.

Ke kota itulah Raia, seorang penulis, mengejar inspirasi setelah sekian lama tidak mampu menggoreskan satu kalimat pun.

Raia menjadikan setiap sudut New York “kantor”-nya. Berjalan kaki menyusuri Brooklyn sampai Queens, dia mencari sepenggal cerita di tiap jengkalnya, pada orang-orang yang berpapasan dengannya, dalam percakapan yang dia dengar, dalam tatapan yang sedetik-dua detik bertaut dengan kedua matanya. Namun bahkan setelah melakukan itu setiap hari, ditemani daun-daun menguning berguguran hingga butiran salju yang memutihkan kota ini, layar laptop Raia masih saja kosong tanpa cerita. Sampai akhirnya dia bertemu seseorang yang mengajarinya melihat kota ini dengan cara berbeda. Orang yang juga menyimpan rahasia yang tak pernah dia duga (Goodreads)


My Thoughts

Pertama kali tahu tentang TaoL sewaktu ada pollstory di twitter Kak Ika. Sempat baca 2 atau 3 chapter dari pollstory itu, terus memutuskan untuk menunggu bukunya saja (untungnya beneran dibuat bukunya).

Dari buku – buku Kak Ika yang pernah aku baca, cerita di buku ini ada rasa yang berbeda. Entah kenapa aku kurang ‘masuk’ ke dalam cerita ini. Setiap kali aku membaca karangan Kak Ika, aku seolah disulap menjadi mata karakter yang ada di dalamnya, tapi tidak dengan Raia dan River. 

Tidak seperti Divortiare dan Twivortiare yang ketara sekali naik turun emosi yang dirasakan Alexandra, Botteganya, celoteh – celotehnya, hobi belanjanya, isengnya; lempeng konyol – menyebalkannya Om Beno, Nutellanya, hobi makannya. Tidak juga seperti Antologi Rasa, konyol dan mulut ‘jorok’nya Harris, tergila – gilanya dia dengan K; galaknya Keara, lovenemy mereka dengan pekerjaan mereka. Tidak juga seperti Critical Eleven. Raia – River kurang memberi kesan membekas padaku. Yang aku tahu mereka sama – sama pernah menikah dan di tinggal pergi. Raia penulis, River arsitek. Kaos kaki hijau? Itu bukan River, tapi Andara. Sketsa – sketsanya? Tidak juga, karena yang aku lihat itu hanya selingan yang dia lakukan selama di NY, tidak seperti Keara yang benar – benar menjiwai fotografi. Raia sebagai penulis? Tidak, itu Kak Ika. Entahlah, aku merasa ada yang kurang disini.

Walaupun demikian, seperti yang dikatakan editor Raia mengenai ke-khas-an Raia dalam menulis, di buku ini juga masih ada ke-khas-an Kak Ika. Dari cara dia menceritakan sesuatu terlebih dahulu sebelum masuk ke main scene, entah itu hanya sekedar quote, sampai endingnya yang menurutku selalu hanya seperti clue.

Dan aku selalu suka dengan beberapa pemikiran yang di tulis Kak Ika karena terkadang sesuatu yang awalnya aku anggap sepele atau malah tidak pernah aku perhatikan sama sekali dapat berubah menjadi kebalikannya. Beside the characters (dan aku bingung kenapa Om Beno dan Alexandra selalu menang dibanding karakter – karakter yang lainnya), this is what I love about your creations, Kak.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *