The first born child

This is the art of being a writer, whenever the inspiration came, whenever the words came to your mind, you have to write it down. Immediately, or else it’ll become nothing. So, here I am again, sacrificing my supposed to be bed time to write this.

It’s just a random thought about my experiences and my own point of view of being a first born child.
Being the first child is hard, it even pathetic yet honorable, especially if you are a girl. Just like me. I’m too tired to write in English. I’ll translate this next time, maybe.

Menjadi anak pertama memang akan memperoleh barang yang serba baru. You’ll excite your parents and it made them to do what best for you. But you have to remember that they were learning, too. Jadi, semua kesalahan yang mereka lakukan saat itu yah berhentinya cuma di kamu. Walau mereka juga nantinya akan melakukan kesalahan lagi, tapi gak mungkin seberat yang kamu terima. That’s the first honorable part. You are your parents’ teacher. Kapan lagi dan siapa lagi coba bisa ada di posisi lebih dari mereka?

Menjadi anak pertama itu berat sekaligus menyedihkan. Secara tidak langsung kamu dituntut untuk menjadi yang terbaik. Semua harapan dan ekspektasi orang tua bertumpu padamu karena kamu akan menjadi contoh dan patokan dari adik – adikmu. Apalagi track recordmu bagus. Kamu juga harus menjadi orang tua kedua bagi mereka, membimbing mereka, mengajari, dan melindungi. Termasuk harus ikut susah demi adikmu. Contoh sepelenya sih nonjok anak orang yang gangguin adikmu hmm… Sayang terkadang adik – adik itu malah bertingkah menyebalkan dan seenaknya.

Menjadi anak pertama itu berat karena kamu harus bersahabat baik dengan rasa mengalah dan dituntut tidak egois. Karena sudah terlatih bertahun – tahun jadi wajar kan ya kalau kamu juga sangat pandai menyembunyikan perasaan? Bukan hal yang pantas dibanggakan karena itu menyesakkan. Being selfish is human’s nature. Manusia perlu bersikap egois asal tidak berlebihan.

Menjadi anak pertama itu menyedihkan. Terkadang kamu dituntut untuk menjadi sempurna, dituntut menjadi dewasa lebih cepat dan mandiri, dan sebisa mungkin tak melakukan kesalahan. Ini berkaitan dengan menjadi panutan adik – adik tengilmu itu. Makanya kalau adik – adik tengilmu itu melakukan kesalahan, ujung – ujungnya anak pertamalah yang akan disalahkan walaupun itu murni tidak ada sangkut pautnya denganmu. Hah… menjadi anak pertama itu mau tak mau harus sabar. Sabar menghadapi ketidakadilan.

But these are the next honorable parts, karena kamu sudah merasakan baik dan buruknya pengalaman hidup, kamu akan menjadi guardian angel mereka. Bahasa kasarnya sih trial error hidup mereka. I don’t know about other people, but I personally will fight with anyone or anything for their freedom. Karena kamu tahu bagaimana tidak enaknya jika mereka ikut berjalan di atas jalur yang telah kamu lalui. So, I let them choose. 

Kamu menderita, tapi asal adik – adikmu tidak mengalami apa yang kamu alami, that’s fine. The suffering would be nothing.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *